Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Hunian ala Villa Berkontur Alami Sentuhan Klasik Koes Yuliadi

    rumah unik
    rumah unik
    rumah unik
    rumah unik
    rumah unik

    Rumah klasik meskipun terlihat kuno, namun tetap dapat disiasati dan dimodifikasi sehingga menjadi lebih modern dan berkelas. Desain rumah tropis klasik memastikan bahwa rumah menjadi nyaman dihuni di daerah seperti Indonesia. Sirkulasi yang nyaman dan jendela yang luas adalah faktor penting untuk rumah dengan desain ini.

    Suasana pedesaan yang nyaman, damai, serta jauh dari hiruk pikuk keramaian kota begitu terasa ketika berada di lingkungan rumah milik Koes Yuliadi yang beralamat di dusun Kembaran RT 08, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Melihat kawasan rumah tersebut, pepohonan dengan ukuran yang cukup besar nampak di sekeliling bangunan menjadi perindang nan sejuk. Kontur tanah di area lereng Gunung Sempu memberikan keunikan tersendiri pada bentuk arsitekturnya. Semilir angin bertiup diantara dedaunan menambah kesan damainya suasana pedesaan. “Dari awal sebenarnya tidak ada konsep pasti dalam membangun rumah ini. Tiba-tiba saya ada ide ingin rumah dengan sentuhan klasik yang dapat menyatu dengan alam sekitar, kemudian saya gambar sendiri hingga akhirnya jadi seperti ini. Pokoknya rumah dengan banyak bukaan menjadi inspirasi dalam membangun rumah ini, sehingga konsep ala villa mungkin akan sangat tepat untuk diaplikasikan. Terlebih juga daerah sini juga masih sepi dan banyak lahan kosong dengan pepohonan rimbun,” ujar Koes Yuliadi.

    Rumah yang berdiri sejak tahun 2004 tersebut sudah nampak karakter bangunannya sedari fasad depan bangunan. Kontur tanah berbukit berhasil dimaksimalkan menjadi layout bangunan yang begitu unik dan berkarakter. Unsur kayu dan bata ekspos juga nampak mendominasi bagian depan rumah, berpadu dalam rimbunnya pepohonan serta tanaman hias yang tumbuh subur di sekeliling bangunan. Di bagian lantai dasar dimanfaatkan sebagai area garasi tempat memarkirkan kendaraan, sedangkan ruangan lain seperti ruang tamu, ruang keluarga, serta kamar-kamar tidur berada di lantai atas memaksimalkan kontur tanah yang berbukit. “Dulu awal membangun rumah, kawasan ini masih sangat sepi penduduk. Bisa dibilang dulu kami yang pertama membangun rumah di kawasan ini. Prinsip saya untuk mencari area yang masih tenang dan asri, karena rumah sebagai tempat beristirahat setelah seharian bekerja, jadi saya ingin suasananya juga mendukung,” imbuh pria yang berprofesi sebagai dosen di ISI Yogyakarta tersebut.

    Beralih memasuki bagian dalam rumah yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 600 m² tersebut, terdapat sebuah pintu masuk utama dengan anak tangga dan dinding bata ekspos layaknya sebuah gerbang kerajaan bergaya kuno. Tepat dibalik pintu masuk tersebut, nampak sebuah patung batu berbentuk Budha, seakan menyambut siapapun yang datang ke rumah. Di sisi sebelah kiri dari pintu masuk, terdapat sebuah kamar tidur bernuansa minimalis namun dengan tambahan aksen-aksen klasik pada furnitur dan dekorasi interiornya. Kamar tersebut mengaplikasikan kaca berukuran besar pada sisi dindingnya sehingga nampak view nan hijau ketika tirai kamar dibuka. Beberapa karya seni lukisan juga nampak menghiasi dinding kamar sebagai pemanis dekorasi kamar tidur.

    Menuju ke area lain dari rumah yang memakan waktu 6 bulan dalam masa pembangunannya tersebut, terdapat sebuah tangga besi sebagai akses masuk ke dalamnya. Area tersebut di desain menjadi bangunan terpisah dari area sebelumnya yang terletak lebih tinggi. Sebuah teras depan berkonsep terbuka menjadi tempat bersantai dengan table set kayu klasik sebagai fasilitas tempat duduk. Aplikasi tegel motif menjadi pelengkap dekorasi klasik di tengah nuansa hijau nan sejuk area teras depan. Memasuki bagian dalam bangunannya, terdapat sebuah kamar tidur besar dan sebuah kamar tidur kecil dengan sentuhan dekorasi bergaya klasik. Sebuah gebyok kayu lawas pada sisi pintu masuk kamar turut menegaskan konsep klasik yang diusung. Di bagian interiornya, unsur kayu juga nampak mendominasi pada tempat tidur hingga furniturnya. Keunikan pada kamar tidur tersebut terletak pada meja rias yang menggunakan bekas mesin jahit kuno sebagai penopang utamanya. Hiasan dinding berupa lukisan berbentuk gajah juga turut mempercantik dekorasi interior kamar tidur. Lalu, tepat di sudut area lantai 2 juga terdapat sebuah dapur yang menjadi satu dengan meja makan bergaya minimalis nan simpel.

    Beranjak dari lantai 2 menuju bagian paling baru dari rumah milik Koes Yuliadi, yaitu lantai 3 yang dimanfaatkan sebagai kamar tidur besar dan area bersantai dengan view alam nan indah. Hampir serupa dengan lantai di bawahnya, setelah menaiki tangga akan nampak sebuah teras depan namun dengan luas yang lebih besar. Memasuki bagian dalam bangunannya, terdapat sebuah kamar tidur bersama yang cukup luas dengan total 3 bed sebagai fasilitas untuk beristirahat. Kamar tersebut biasa digunakan sebagai kamar bagi tamu yang datang dan menginap. Selain itu, Koes Yuliadi juga sering menyewakan kamar-kamar yang ada di rumahnya sebagai penginapan bagi teman atau saudara yang sedang berwisata ke Jogja. “Memang rumah ini lebih sering kosong karena saya dan anak laki-laki saya tinggal di rumah bawah, jadi rumah ini sering saya sewakan. Namun saya tidak mengiklankan rumah ini sebagai penginapan. Biasanya hanya teman dan relasi yang sudah kenal saja,” pungkas Koes mengakhiri perbincangan. Farhan -red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain