Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Melting Pot Eatery & Coffee Ruang Kopi Untuk Komunikasi Hakiki

    Melting Pot Eatery & Coffee
    Area halaman belakang dengan kesan sederhana nan asri
    Toples kopi tertata rapi di sudut bar dan garasi sebagai area makan
    Wall art dengan pesan menggelitik pada sisi dinding cafe
    Aneka menu Melting Pot Eatery & Coffee

    Budaya minum teh warga Yogyakarta yang sudah berlangsung bertahun-tahun, dalam 3-4 tahun belakangan ini bergeser ke budaya minum kopi. Terlebih ditambah dengan faktor kota Jogja sebagai kota pelajar yang menjadi tempat bertemunya para mahasiswa dari berbagai penjuru pelosok tanah air. Beberapa dari mereka merupakan penggemar kopi karena berasal dari daerah penghasil kopi, misalnya, Jambi, Lampung, Aceh, Bali, Flores, hingga Toraja. Hal ini tentu saja mendorong bisnis warung kopi berkembang pesat terutama di kawasan Jogja.

    Salah satu warung kopi di kawasan kota Jogja yang menawarkan berbagai jenis biji kopi dari segala penjuru Nusantara yaitu Melting Pot Eatery & Coffee. Kafe tersebut sudah cukup lama dikenal dikalangan masyarakat Yogyakarta. Awalnya, kafe ini berlokasi di daerah Kotabaru tepatnya berseberangan dengan Raminten, kemudian pernah berpindah lokasi di Ringroad Utara. Namun, sejak tahun 2015, Melting Pot dikenal dengan nama baru yaitu Melting Pot Eatery & Coffee yang berlokasi di Jalan Suryodiningratan No.37B, Mantrijeron, Yogyakarta. “Sebenarnya saya merintis Melting Pot ini sudah sejak tahun 2005. Waktu itu lokasi pertamanya berada di kawasan Kotabaru, kemudian sempat berpindah di kawasan Ring Road Utara. Kemudian sekitar tahun 2015 baru pindah di lokasi sekarang. Namun secara konsep masih tetap mempertahankan seperti dulu, yaitu sebagai ruang nongkrong untuk bercengkrama dan mengobrol santai. Hanya mungkin saat ini pilihan menu makanannya lebih variatif. Atas dasar itu saya menambahkan kata Eatery & Coffee pada penamaannya,” papar Andri, owner Melting Pot Eatery & Coffee.

    Awal mula penamaan kafe ini mengacu pada istilah melting pot theory yang berarti metafor untuk masyarakat heterogen yang semakin homogen. Elemen yang berbeda "melebur menjadi satu" sebagai suatu kesamaan budaya yang harmonis. Hal tersebut juga sekaligus harapan Melting Pot dapat menjadi ruang untuk berbaur, tidak memperdulikan latar belakang orang yang datang, semua membaur menjadi satu di kafe ini. Karena pada faktanya, di kafe ini banyak konsumen yang datang dan bertemu dengan orang baru, mengobrol, dan nyambung. Hal tersebut didukung dengan nuansa kafe yang santai dan hangat.

    Suasana di Melting Pot Eatery & Coffee akan membuat siapapun yang datang merasa nyaman, karena kafe tersebut mempergunakan bangunan rumah tua yang terbagi dalam ruang santai tertutup, ruang santai terbuka atau halaman, galeri kain, dan ruang pameran dengan sisi heritage, sehingga menambah suasana menjadi unik dan terasa nuansa vintage di dalamnya. Bangunan rumah yang digunakan sebagai kafe Melting Pot tersebut cukup menyita perhatian karena bergaya persis seperti bentuk bangunan perumahan dosen UGM di kawasan Bulak Sumur. Andri menambahkan bahwa bangunan rumah tersebut dulunya pernah menjadi kantor sebuah lembaga penelitian dan kebudayaan Indonesia-Belanda tertua di Indonesia. “Kalau rumah ini sebenarnya rumah lama dari tahun 50 an. Dulunya pernah digunakan untuk produksi batik. Kemudian sempat digunakan sebagai kantor Yayasan Karta Pustaka yang kemudian penggunaan bangunannya saya lanjutkan untuk Melting Pot sekarang ini,” tambahnya.

    Pada sisi depan kafe yang buka setiap hari Rabu hingga Senin mulai pukul 17.00 – 01.00 WIB tersebut, terdapat sebuah area bar tempat para barista meracik kopi yang dipesan pengunjung. Dengan memanfaatkan jendela rumah dengan dekorasi nan sederhana, menampilkan kesan sederhana di dalamnya. Beberapa toples tempat menyimpan biji kopi dengan label berbagai jenis dari berbagai daerah di Indonesia nampak berjajar rapi pada sisi depan bar. Pengunjung yang datang dapat memilih langsung jenis biji kopi dari daerah mana yang ingin mereka nikmati serta berinteraksi langsung dengan para barista. Tanaman hijau dan pohon-pohon perindang pada sisi halaman depan memberikan nuansa sejuk dan asri. Rumah dengan gaya vintage tersebut telah berhasil disulap dengan apik menjadi sebuah coffee shop yang menyediakan berbagai pilihan jenis biji kopi berkualitas. Pada sisi samping rumah yang sejatinya merupakan sebuah garasi kendaraan, berjajar beberapa meja dan kursi kayu berwarna putih yang dapat digunakan pengunjung untuk duduk dan menikmati hidangan yang telah disajikan. Beberapa wall art menjadi pemanis sisi dekorasi di area tersebut. Memasuki area belakang, nuansa sederhana yang dibalut dalam sentuhan asri nampak begitu mendominasi. Table set kayu nampak tertata rapi pada area terbuka dengan pepohonan berukuran besar sebagai perindang, menghadirkan kesan fresh di dalamnya.

    Menurut Andri, dalam menjalankan bisnis kopi harus ada konsistensi dan passion dari pengelola. Karena bisnis kopi tidak hanya sekadar bisnis minuman, namun bisnis rasa. Rasa kopi yang enak ditentukan oleh passion dari pengelola warung kopi itu sendiri. Hanya 10 persen rasa kopi ditentukan oleh barista dan selebihnya ditentukan oleh kualitas kopi. Produk minuman kopi yang disediakan di Melting Pot merupakan kopi kualitas premium pilihan dari daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia, seperti Aceh, Flores, Bali, Temanggung dan beberapa daerah lainnya. Dan kopi-kopi tersebut tidak diambil dari pengepul tapi langsung pada petani kopi sehingga kualitas kopi sangat terjamin. "Kami ingin menyediakan kopi yang berkualitas untuk membedakan dengan kedai-kedai kopi lainnya. Karena itu, kami mengambil kopi langsung ke petani kopi, bukan lewat pengepul," imbuh pria yang juga berprofesi sebagai desainer grafis tersebut.

    Melting Pot Eatery & Coffee menawarkan menu yang cukup beragam. Untuk menu minuman sendiri yang menjadi daya tarik utama adalah kopi single origin dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja kopi dari daerah Simalungun, Bali, Probolinggo, Toraja, dan sebagainya. Selain itu kafe ini juga menyediakan kopi Luwak yang jarang ditawarkan oleh kedai kopi bahkan kafe lain. Kopi-kopi tersebut selain dijual dalam bentuk minuman juga dijual dalam bentuk kemasan untuk diseduh sendiri. Tidak ketinggalan kopi olahan atau kopi campuran seperti Cappuccino, Kopi Susu, Kopi Lemon, Vietnam Drip dan sebagainya. Selain kopi, cafe ini juga menyediakan beraneka minuman seperti coklat susu float, wedang uwuh, teh, dan sebagainya.

    Dari menu makanan yang ditawarkan, Melting Pot memiliki beberapa pilihan yang layak untuk dicoba. Beberapa di antaranya yaitu Full Tank Burger, Burger Tempe, Lasagna Klasik, Pasta Pedes yang merupakan jenis western food. Bagi pengunjung yang gemar makanan Nusantara, terdapat beberapa menu diantaranya Nasi Goreng Kari Sapi dan cemilan berupa Tempe Mendoan. Harga yang ditawarkan untuk menu-menu yang ada di Melting Pot juga terbilang terjangkau, mulai dari 5 ribuan hingga 30 ribuan saja. Untuk menu kopi dibanderol mulai 10 ribu sampai 20 ribuan, kecuali jenis Kopi Luwak yang ditawarkan seharga 40 ribu. “Walaupun saat ini banyak berkembang berbagai macam cara penyajian kopi, namun saya tidak ingin terlalu ikut dalam tren tersebut. Di Melting Pot, cara menyeduh kopi dengan metode tubruk dan saring selalu saya utamakan. Karena bagi penikmat kopi, cita rasa kopi sejati justru dihasilkan dari cara penyajian kopi yang sederhana. Dan hal tersebut juga berlaku untuk saya pribadi,” pungkas Andri. Farhan-red

    Melting Pot Eatery & Coffee
    Jl. Suryodiningratan No. 37 B,
    Mantrijeron, Yogyakarta
    Telp. 08112652914
    Ig : meltingpotyogyakarta

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain